HUBUNGAN HYGIENE DAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA

Zairinayati Zairinayati, Rio Purnama

Abstract


Latar Belakang: Stunting merupakan salah satu bentuk kurang gizi berupa keterlambatan pertumbuhan linear. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah pengetahuan gizi ibu yang kurang sehingga cendrung untuk memberikan makanan kepada anaknya tanpa memandang kandungan gizi, mutu dan keanekaragaman makanan. Faktor lain adalah perilaku higiene sanitasi makanan yang kurang baik, menyebabkan penyakit infeksi disertai gangguan seperti nafsu makan berkurang dan muntah-muntah. Kondisi ini dapat menurunkan keadaan gizi balita dan berimplikasi buruk terhadap kemajuan pertumbuhan anak (stunting). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kondisi hygiene sanitasi lingkungan (jenis jamban, sumber air bersih, kejadian diare, kejadian kecacingan) dengan kejadian  stunting pada. Metode: ini adalah case control dengan pendekatan retrospective study, dengan analisis data menggunakan uji statistik chi square. Populasi kasus dalam penelitian ini adalah seluruh anak balita yang berumur 1-5 tahun yang dinyatakan mengalami stunting oleh dokter/petugas paramedis dan populasi kontrol adalah balita yang dinyatakan tidak menderita stunting dengan besar sampel 30 kasus dan 30 kontrol. Hasil: Anak yang menderita stunting sebesar 43, 3% berada pada rentang umur 3,2 - 3,9 tahun,  memiliki berat badan 9-15 kg sebanyak 73,3% dan 97% keluarga memilki pendapatan rendah (kurang dari juta/bulan). Hasil uji bivariat didapatkana ada  hubungan antara jenis jamban, sumber air bersih dengan kejadian stunting pada balita. Namun tidak ada hubungan antara kejadian kecacingan dengan stunting. Saran: kepada tenaga sanitarian khususnya agar dapat memberikan informasi kesehatan terkait dengan penggunaan air bersih, dan menggunakan jamban, karena daerah yang kondisi sanitasinya buruk, ditandai dengan rendahnya akses rumah tangga ke jamban sehat, umumnya punya prevalensi stunting yang tinggi dan perlu menggunakan pendekatan dengan analisis kohort untuk mengamati pengaruh langsung dari kejadian stunting.

 

Keyword : Stunting, Sanitasi, Diare


Full Text:

PDF

References


Ardiyanti.Maya, Besral. 2014. Pola Asuh Gizi, Sanitasi Lingkungan dan Pemanfaatan Posyadu dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Indonesia (Analisis Data Riskesdas 2010). FKM UI.

Bappenas. 2011. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015.http://www.4shared.com/get/I45gBOZ/ Rencana Aksi Nasonal Pangan.

Cahyono, dkk. (2016). Faktor Penentu Stunting Anak Balita pada Berbagai Zona Ekosistem di Kabupaten Kupang. Jurnal. Gizi Pangan, Maret 2016, 11(1):9-18.

Departemen Kesehatan RI. Lampiran KMK: Pedoman pengendalian cacingan. Jakarta; 2006 dalam Renanti, dkk (2015). Hubungan Infeksi Soil Transmitted Helminth dengan Status Gizi pada Murid SDN 29 Purus Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. Vol 4 (2)

Desyanti dan Nindya. Amerta Nutr. (2017). Hubungan Riwayat Penyakit Diare dan Praktik Higiene dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Simolawang, Surabaya. Jurnal Amnt.v1i3.2017.243-251.

Ditjen Bina Gizi dan KIA 2013. Rencana Aksi Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu di Indonesia. Jakarta. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Kementerian Kesehatan RI. (2018) . Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. ISSN 2088 – 270 X.

Manongga SP. 2013. Gizi kualitas hidup manu¬sia: epidemiologi malnutrisi dan dampak¬nya terhadap kualitas hidup anak balita pada berbagai zona ekosistem di Propinsi Papua dan Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kupang: Seminar Pembangunan Kesehat¬an Masyarakat Berkelanjutan, 20 Oktober 2013.

Ngaisyah, Dewi. 2015. Hubungan Sosial Ekonomi dengan Kejadian Stunting pada Balita di Desa Kanigoro, Saptosari, Gunung Kidul. Jurnal Medika Respati. Vol X Nomor 4 Oktober 2015. ISSN : 1907 – 3887.

Nusantara Media Komunikasi Indonesia. 2018

Proverawati dan Kusumawati. 2011. Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan. Nuha Medika. Yogyakarta.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.